Selasa, 21 Mei 2013

0 PERAYAAN AADHI TIRUVIZHA UMAT HINDU

PERAYAAN AADHI TIRUVIZHA UMAT HINDU


Setiap umat beragama mempunyai perayaan (celebration) yang dianggap sacral (sacred) untuk membuktikan kedekatannya kepada Tuhan. Setiap agama mempunyai tujuan, bagi umat Hindu tujuan agama itu dapat dirumuskan secara garis besar kepada dua: pertama, untuk mencapai kebahagiaan dunia yang disebut jagat hita. Jagat bermakna dunia dan hita bermakna baik. Jagat hita berarti kebaikan di dunia. Kedua, untuk mencapai kebahagiaan rohani atau batin yang disebut moksa[i], satu keadaan mental dan rohani di mana tujuan pokok dari kehidupan rohani dapat dicapai atau direalisir, satu kegembiraan keadaan batin di mana keadaan bahagia benar-benar dirasakan.[ii] Tujuan ini menunjukkan bahwa dalam agama Hindu, Tuhan menjadi persoalan krusial dalam mengantar seseorang ke pada jalan kesempurnaan sampai kepada moksa atau nirvana.
Salah satu perayaan yang membawa diri dekat dengan Tuhan dalam komunitas umat Hindu adalah Aadhi Tiruvizha. Penelitian ini dilaksanakan khususnya di lingkungan  kuil Shri Maha Kaliamman, Tanjung Marulak-Tebing Tinggi di mana pengikutnya tidak hanya di sekitar Tanjung Marulak-Tebing Tinggi itu saja namun dari berbagai daerah termasuk Perbaungan-Serdang Bedagai.[iii]
Bila dilihat dari proses ritualitas yang dilakukan, perayaan Aadhi Tiruvizha ini hampir sama dengan perayaan dalam komunitas umat Hindu di India yaitu Durga Puja. Durga puja adalah perayaan yang dilaksanakan pada bulan Desember dan secara khusus popular di India bagian Timur Laut, perayaan itu dipersembahkan untuk Dewi Durga yang memiliki kemampuan untuk menghalau kekuatan jahat. Orang-orang berdansa di depan symbol-simbol kebesaran di jalan, dan di Kalkutta festival ini berakhir dengan meletakkan symbol-simbol kebesaran tersebut di sungai.[iv] Namun, tetap saja perayaan Aadhi Tiruvizha memiliki perbedaan tatacara ritualitas dan orientasi. Hal ini menunjukkan dalam agama Hindu ada perbedaan tradisi antara satu komunitas umat Hindu di sebuah daerah akan berbeda dengan ritualitas di daerah lain. Hakikinya, semua mengarah kepada proses pemujaan kepada Tuhan.


Catatan
[i]In Hinduisme, the release of the soul from a cycle of rebirths. It is one of the four acceptable goals of life for Hindus. Lihat Warren Matthews, World Religions (ttp.: Wadsworth Publishing Company, 1999), h.93
[ii]Syahrin Harahap, Sejarah Agama-agama (Medan: Pustaka Widyasarana, 1994), h.91
[iii]Aadhi Tiruvizha adalah perayaan sakral yang dilakukan setiap tahunnya dalam rangka Puja dan pelaksanaan nazar (niat) bermohon kepada Tuhan. Sebagaimana hasil wawancara penulis pada hari minggu, 16 November 2008 dengan salah seorang pemeluk agama Hindu yang bernama Mannur, usia 35 Tahun berdomisili di Perbaungan-Serdang Bedagai yang melaksanakan langsung perayaan tersebut pada minggu, 10 Agustus 2008.
[iv] Molloy, Experiencing The World’s Religions: Tradition, Challenge and change (ttp.: The Mc-Graw-Hill Companies, 2008), h. 104

Ingin mengetahui makalah ini lengkap? silahkan hubungi dan perhatikan hal berikut ini

0 Klasifikasi Kualitas Hadis

Klasifikasi Kualitas Hadis

Hadis menurut definisi ulama hadis adalah perkataan, perbuatan, ketetapan (taqrir) dan sifat-sifat Nabi. Kedudukan hadis sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Alquran menunjukkan betapa pentingnya kita mengetahui dan memahami hadis. Para ulama berupaya mengaklasifikasikan hadis untuk memudahkan dalam memahaminya.
Pengklasifikasian hadis dapat ditinjau dari dua segi, pertama: hadis dapat ditinjau dari segi kuantitas (jumlah) rawi yang meriwayatkan dan menyampaikannya. Dalam melakukan pembagian dan kategorisasinya terdapat perbedaan pendapat ulama. Secara umum, perbedaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Satu golongan membagi hadis dari  perspektif ini kepada hadis mutawatir, masyhur dan ahad. Golongan yang lain membaginya ke dalam dua bagian saja, hadis mutawatir dan ahad.

0 TRADISI ADAT JAWA TUJUH BULANAN


TRADISI ADAT JAWA TUJUH BULANAN

A.    PENDAHULUAN
Setiap masyarakat memiliki tradisi (adat)[i] tertentu yang berbeda dengan tradisi pada masyarakat yang lain. Khususnya, pada masyarakat di Desa Sidomulyo[ii] yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa[iii] dan beragama Islam memiliki tradisi (adat) Jawa yang masih cukup kental, baik dalam persoalan tatacara perkawinan, tradisi kematian, tujuh bulanan (tingkeban/mitoni) dalam masa kehamilan, tradisi kelahiran dan lain-lain. Dalam penelitian ini, penulis khusus mengkaji proses tradisi (adat) Jawa di Sidomulyo mengenai tujuh bulanan (tingkeban/mitoni).
Bagi masyarakat Jawa di Desa Sidomulyo, aturan adat masih diperpegangi dan menjadi acuan dalam bersikap atau berprilaku[iv] atau disebut budi pekerti Jawa. Budi pekerti Jawa  adalah fenomena hati atau bathin secara sadar orang Jawa yang terpantul ke dalam tindakan. Dengan demikian, budi pekerti Jawa berarti kesadaran total tentang dunia bathin kejawaan dan praktek kejawaan. Dari makna semacam ini, dapat dikemukakan bahwa budi pekerti Jawa merupakan watak dan perbuatan orang Jawa sebagai perwujudan hasil pemikirannya.[v]

0 Pengenalan Terhadap Sosiologi dan Perspektif (Pendekatan) Dalam Sosiologi

Pengenalan Terhadap Sosiologi dan  Perspektif (Pendekatan) Dalam Sosiologi


A. Pendahuluan
            Sosiologi adalah kajian ilmiah tentang kehidupan sosial manusia. Sosiologi berusaha mencari tahu tentang hakekat dan sebab-sebab dari berbagai pola pikiran dan tindakan manusia yang teratur dan dapat berulang dan sosiologi juga hanya tertarik kepada pikiran dan tindakan yang dimunculkan seseorang sebagai anggota suatu kelompok atau masyarakat. Namun perlu diingat, sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang luas dan mencakup banyak hal, dan banyak juga jenis sosiologi yang mempelajari sesuatu yang berbeda dengan tujuan yang berbeda-beda.

0 Takhrij Hadis Man Nasiya shalatan falyushalli Iza Zakaraha


Takhrij Hadis Man Nasiya shalatan  falyushalli Iza Zakaraha

A. Pendahuluan

            Ilmu Takhrij hadis merupakan bagian daripada ilmu hadis yang fungsinya untuk meneliti perawi  hadis lebih lanjut adalah mengemukakan letak asal hadis pada sumbernya yang asli, yaitu kitab-kitab hadis yang didalamnya dicantumkan hadis tersebut lengkap dengan matan dan sanad-sanadnya, kualitas sanad dan kualitas matan hadis tersebut.[1]
Suatu penelitian untuk mengeluarkan hadis dari sumbernya akan terarah dan sistematis  dengan mengikuti langkah-langkah (1)Menelusuri hadis yang diteliti pada sumbernya yang asli. Yaitu Kitab-kitab sumber asli hadis antara lain adalah al Kutub al- Sittah, Musnad Ahmad, Sunan ad Darimi, al Mustadrak ‘ala al-Sahihain karya al Hakim dan as-Sunan al Kubra karya al Baihaqi. (2)Membuat skema / I'tibar.[2]