Rabu, 31 Desember 2014

0 Korelasi Perhatian Orang Tua Dengan Prestasi Siswa di Madrasah Aliyah

Latar Belakang Masalah
Manusia dalam hidup selalu melakukan kegiatan belajar. Manusia belajar sejak lahir dan dilakukan secara terus-menerus selama hidupnya, karena manusia disamping sebagai makhluk biologis manusia juga merupakan makhluk sosial dan budaya yang selalu berusaha berkembang ke arah lebih baik.
Belajar adalah suatu bentuk aktivitas manusia yang memerlukan adanya motivasi untuk mencapai tujuan. Semakin tinggi motivasi yang didapat siswa maka semakin tinggi pula keberhasilan yang akan dicapai.[1]
Belajar, menurut Usman Effendi secara singkat diartikan sebagai suatu proses perubahan keseluruhan tingkah laku yang meliputi aspek kognitif, afektif, psikomotorik, yang terjadi secara integral. Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar mengalami perubahan dalam hal ketrampilan, pengetahuan, kebiasaan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis, (budi pekerti), sikap. Perubahan-perubahan ini diperoleh siswa melalui interaksinya dengan lingkungan di sekitarnya.[2]
Tidak berbeda dengan kegiatan lainnya, kegiatan belajar ini juga mempunyai tujuan. Adapun tujuan belajar menurut Winarno Surakhmad adalah :
(1). Pengumpulan pengetahuan, (2). Penamaan konsep dan kecekatan, serta (3). Bentuk sikap dan perbuatan. Dari tujuan di atas tampak dalam belajar tidak hanya mengembangkan aspek kognitif saja tapi aspek-aspek lain juga, seperti efektif dan psikomotorik.[3]
Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan belajar ini
sejalan atau sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yang tertuang dalam
undang- undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan
Nasional Bab I pasal 1:
"Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara."[4]


Ingin mengetahui makalah ini lengkap? silahkan hubungi dan perhatikan hal berikut ini

[1] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Karya, 1989), 97.
[2] Usman Effendy, Pengantar Psikologi, (Bandung: Angkasa, 1985), 45.
Winarno Surakhmad,. Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung: Tarsito, 1986), 14.
[4] Undang-Undang RI no 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara), 3.

0 Implementasi Pendidikan Akhidah Akhlak Dalam Membentuk Karakter Siswa Yang Baik ( Studi kasus karakter siwa )

Latar Belakang
Perkembangan masyarakat Indonesia berjalan kian hari kian cepat. Salah satu faktor yang berpengaruh sangat besar terhadap kecepatan ini adalah pembangunan nasional. Ada banyak pengaruh yang memberikan arah kepada pembangunan nasional. Pengaruh yang sangat menonjol berasal dari penerapan ilmu dan teknologi. Seirama dengan perkembangan itu, tidak hanya terjadi pembenturan dan pergeseran nilai-nilai yang dianut masyarakat, tetapi bahkan terjadi pula perubahan-perubahan nilai.
Fenomena empirik menunjukkan bahwa pada saat ini di Indonesia terdapat banyak kasus kenakalan dikalangan para pelajar, diantaranya isu perkelahian pelajar, tindak kekerasan, premanisme, konsumsi narkoba dan minuman keras, pemerkosaan, pembunuhan, kurangnya etika berlalu lintas dan kriminalitas-kriminalitas lain yang semakin hari semakin meningkat dan semakin kompleks telah mewarnai halaman surat kabar dan media massa.
Timbulnya kasus-kasus tersebut memang bukanlah semata-mata karena kegagalan pendidikan agama di sekolah, akan tetapi bagaimana semua itu dapat digerakkan oleh pemerintah, masyarakat dan sekolah dalam hal ini adalah guru agama untuk mencermati kembali dan mencari solusi lewat pengembangan metodologi pendidikan agama untuk tidak hanya berjalan secara konvensional-tradisional dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang telah mempengaruhi banyak para pelajar sehingga mereka berperilaku seperti itu.
Pendidikan pada hakikatnya adalah "usaha sadar membudayakan manusia atau memanusiakan manusia. Manusia itu sendiri adalah pribadi yang utuh dan pribadi yang kompleks sehingga sulit dipelajari secara tuntas"[1]. Oleh karena itu, masalah pendidikan tidak akan pernah selesai, sebab hakikat manusia itu sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupannya. Pendidikan adalah usaha sadar bertujuan, namun tidaklah berarti pendidikan harus berjalan secara konvensional dan tradisional.
Pendidikan tetap memerlukan inovasi-inovasi yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai manusia, baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk religius. Mengingat pendidikan selalu bergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasilnya pendidikan adalah pelaksanaan pendidikan, yaitu guru. Gurulah ujung tombak pendidikan sebab guru secara langsung berupaya mempengaruhi, membimbing, membina dan mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.
Inilah hakikat pendidikan sebagai usaha memanusiakan manusia. Sebagai ujung tombak, guru dituntut memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik dan pengajar. Kemampuan tersebut tercermin dalam kompetensi guru. Sebagai pengajar paling tidak guru harus menguasai bahan yang diajarkannya dan terampil dalam hal cara mengajarkannya. Bahan yang harus diajarkan oleh guru tercermin dalam kurikulum (program belajar bagi siswa), sedangkan cara mengajarkan bahan tercermin atau berkaitan dengan proses belajar mengajar.
Ingin mengetahui makalah ini lengkap? silahkan hubungi dan perhatikan hal berikut ini



[1] Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar-Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), 1.

0 Hubungan Antara Kegiatan Keagamaan Dengan Kesiapan Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional Pada siswa Kelas IX

. Latar Belakang Masalah
Agama merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan, baik individu maupun kolektif. Agama memberi sumbangan bagi sistem sosial, dalam arti pada titik tertentu manusia berada dalam ketidakberdayaan, agama memberikan jawaban dan petunjuk terhadap persoalan yang dihadapi manusia. Fungsi agama bagi manusia adalah menyediakan dasar pokok sebagai pijakan dan jaminan serta memberi ransangan bagi seseorang atau masyarakat untuk berusaha.[1] Pengalaman agama ini menjadi sangat urgent karena manusia merupakan makhluk religius (homo religius) yang selalu membutuhkan kekuatan spiritual untuk mendorong mencapai prestasi dan mempertahankan hidup.
Agama juga memiliki peranan penting untuk membentuk karakter dan mental manusia dalam menjalani proses kehidupan ini. Karena didalam agamalah terdapat aturan-aturan dan panduan supaya kita manusia bisa dan mampu untuk melakukan segala aktivitas dan perilaku supaya manusia kembali kepada Tuhan dalam keadaan yang baik pula. Agama adalah pilihan hidup, agama adalah prinsip, agama adalah keyakinan mendasar manusia selama hidup di dunia.
Sehingga secara ideal kewajiban untuk memahami, mengamalkan agama secara benar adalah tuntutan pada setiap manusia khususnya pemeluk agama Islam.[2]
Menghadirkan nilai-nilai religius sebagai wujud ketaatan pada ajaran agama dalam seluruh dimensi kehidupan adalah salah satu pondasi yang sering dilupakan. Padahal ajaran agama dengan jelas mengajarkan bahwa siapapun yang dekat dengan Tuhan (taqarrub ilallah), maka ia akan mendapat ridlo-Nya. Itulah manusia, ingat Tuhan hanya ketika mengalami kesulitan. Namun pada saat dalam keadaan senang dan bahagia, nilai- nilai moral ketuhanan terlupakan.[3] Memang, hal itu sudah menjadi sunnatullah. Tapi, terkadang kita sebagai manusia tidak pernah merenungkannya. Kita sebagai manusia hanya ingin mendapat nikmatnya saja tanpa mau berikhtiar baik lahir maupun batin (berdoa setiap waktu). Di sini peran orangtua dan guru sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan anak atau para siswanya.
Dalam dunia pendidikan, Ujian Nasional atau yang disingkat UN bisa dikatakan sebagai salah satu ujian hidup bagi para siswa yang menempuh jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ujian Nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ujian Nasional diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.[4] Ujian Nasional digelar untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil Ujian Nasional digunakan sebagai : (1) Pemetaan mutu program satuan pendidikan, (2) Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, (4) Dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.[5]

Ingin mengetahui makalah ini lengkap? silahkan hubungi dan perhatikan hal berikut ini


Hasan Langgulung, Manusia Dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1986), h. 396
Fernando, Pentingnya Agama Buat Manusia, (Online) www. fernandositindaon.info/uncategorized/pentingnya-agama-buat-manusia. Diakses tanggal 01 April 2011.
[3] Khoirul Umam Sonhadji, (Online)
www.adarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=64620. Diakses tanggal
01 April 2011.
[4] Sisdiknas, UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 71, (Bandung: Fokus Media, 2009), h. 102
[5] Kemendiknas, (Online) www.kemdiknas.go.id/orang-tua/ujian-nasional.aspx. Diakses tanggal 13 Januari 2011.

0 Dinamika Persepsi Masyarakat Terhadap Lembaga Pendidikan ( studi tentang pandangan masyarakat terhadap pendidikan pada madrasah )

Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari - hari, semua orang tidak akan terlepas dari sebuah proses yaitu pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun Informal. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan wajib dimiliki oleh setiap manusia. Karena dalam kesehariannya manusia selalu melampaui setiap tahap perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Dengan adanya proses tersebut maka manusia dituntut senantiasa belajar dari setiap pengalaman yang telah dialaminya.
Pendidikan, dalam maknanya yang umum, merupakan realisasi perkembangan individu dan masyarakat secara benar dan menyeluruh serta pengayaan kesempatan harmonisasi dan adaptasi antara keduanya. Dengan demikian, pendidikan merupakan urgensi sosial bagi individu dan masyarakat untuk menjamin kelangsungan hidupnya individu tidak berada dalam ruang hampa. Sejak kelahirannya, seorang anak tidak bersandar pada dirinya sendiri, dan juga tidak dapat hidup dengan sekedar pertumbuhan organis (biologis) sepanjang hayatnya. Secara perlahan seorang anak pasti memperoleh sifat-sifat sosial agar menjadi makhluk sosial yang dapat memahami dan beradaptasi dengan pola hidup yang berlaku di dalam masyarakat. Anak tidak dilengkapi kekuatan Fitriah dan daya fisik yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya, karenanya; selama beberapa tahun pertama dari kelahirannya, ia mesti bersandar kepada orang lain guna memperoleh kekuatan dan kemampuan untuk memelihara dirinya dan berinteraksi dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sandaran itu, pertama-tama ialah orang tua, kemudian sekolah, dan selanjutnya masyarakat luas. Pemeliharaan oleh orang tua dan pengembangan oleh masyarakat ini jelas merupakan urgensi pendidikan. [1]
Tiap-tiap ruang dan komponen pendidikan menjalankan fungsinya masing-masing untuk merealisasikan tujuan bersama yang telah ditentukan. Di dalam praktik, ditemukan bahwa salah satu tujuan pendidikan ialah membekali siswa dengan pengetahuan dan ketrampilan. Untuk merealisasi tujuan tersebut diperlukan penentuan fungsi para guru; demikian pula pengayaan kondisi dan fasilitas yang membantu para siswa dan guru untuk mewujudkan tujuan tersebut dengan berhasil dan efektif.
Sebagaimana pendidikan umumnya, kita mengetahui bahwa pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Di dunia ini, dimanapun terdapat masyarakat, disana pula terdapat pendidikan.[2]
Masyarakat saat ini sangat selektif dalam memilih dan memilih lembaga pendidikan bagi putra putrinya. Mereka berharap lembaga pendidikan yang telah terpilih, mampu memberikan pengaruh yang baik bagi masa depan putra putri mereka. Baik itu dari segi akademisi maupun religi.
Di desa kami tepatnya di Desa Kedungkendo kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu desa yang padat penduduknya. Di desa ini terdapat lembaga - lembaga pendidikan formal yang sangat menonjol, seperti contoh Sekolah Dasar Negeri. Sekolah Menengah Pertama Negeri dan sebagainya, yang dapat dikatakan sebagai sekolah umum oleh masyarakat Desa Kedungkendo. Pada Sekolah Dasar Negeri di Desa Kedungkendo ini pada saat tahun 2007 terdapat 148 siswa siswi yang menempuh pendidikan disana, dan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dan pada tahun 2011 ini jumlah siswa siswi mencapai 188. Dan terdapat pula lembaga pendidian seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan sebagainya, yang biasa di sebut dengan sebutan madrasah bagi warga setempat. Pada Madrasah Ibtidaiyah di Desa Kedungkendo ini pada saat tahun 2007 terdapat 350 siswa, tetapi pada tahun 2011 ini jumlah siswa mencapai 306.
Lembaga-lembaga formal di atas memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, salah satu contoh yang dapat kami sebutkan disini adalah biaya pendidikan. Pada sekolah madrasah di desa ini, siswa-siswi belum terbebas dari biaya pendidikan bulanan atau biasa disebut SPP. Hal ini disebabkan karena lembaga ini masih menyelenggarakan pembangunan sarana dan prasarana sekolah. Sehingga uang dari siswa-siswi tersebut dimana dialokasikan untuk pembangunan. Sedangkan pada sekolah umum atau milik pemerintah seperti


Ingin mengetahui makalah ini lengkap? silahkan hubungi dan perhatikan hal berikut ini



Ali Horison Ashraf, Pendidikan Islam, terjemahan Sori Siregar. (Jakarta: Pustaka Firdausi, 1993) hal. 56
[2] Drs. M. Ngalin Purwanto, MP. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis, (Bandung : Rosdakarya, 2000), hal 138.

0 Aktualisasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah


A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia pendidikan, dimana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat startegis dalam menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa di rasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat di lihat kualitasnya. Berbeda dengan lembaga pendidikan yang melaksankan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnyapun biasa-biasa saja.
Pendidikan merupakan kunci kemajuan, semakin baik kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh suatu masyarakat/bangsa, maka akan diikuti dengan semakin baiknya kualitas masyarakat/bangsa tersebut. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara[1].
Pelaksanaan pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan setidaknya mampu mencapai makna dari pendidikan diatas walaupun memang tidak mudah untuk mencapai semua komponen yang tercantum dalam UU Sisdiknas tersebut, akan tetapi baik lembaga formal maupun nonformal setidaknya bisa memberikan kontribusi untuk mewujudkan peserta didik yang mempunyai kualitas yang di harapkan Edward salis dalam bukunya Total Quality Manajemen In Education menyebutkan, kondisi yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan dapat berasal dari berbagai macam sumber, yaitu miskinnya perencanaan kurikulum, ketidak cocokan pengelolaan gedung, lingkungan kerja yang kurang kondusif, ketidaksesuaian sistem dan prosedur (manajemen) tidak cukupnya jam pelajaran, kurangnya sumber daya dan pengembangan staff. Sedangkan syarifuddin (2002), menyebutkan mutu pendidikan kita rendah terletak pada unsur-unsur dari sistem pendidikan kita sendiri, yakni paling tidak pada faktor kurikulum, sumber daya ketenagaan, sarana dan fasilitas, manajemen madrasah, pembiayaan pendidikan dan kepemimpinan merupakan faktor yang perlu dicermati. Disamping itu, faktor eksternal berupa partisipasi politik rendah, ekonomi tidak berpihak terhadap pendidikan, sosial budaya, rendahnya pemanfaatan sains dan tehnologi, juga memperngaruhi mutu pendidikan[2]
Seringkali kita menyalahkan bahwa lulusan atau output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini, terlebih output yang dihasilkan dari madrasah tidak siap untuk memasuki dunia kerja, hal tersebut bukan kesalahan peserta didik atau pendidik yang mengajarkan pengetahuan, karena    mereka    hanya    pelaku    dari    program    yang    telah    ditetapkan atasan, walaupun sebagian dari mereka yang berhasil tetapi kebanyakan mutu pendidikan didaerah lain jauh tertinggal dari peradaban manusia
Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga indikator yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi. Mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.


Ingin mengetahui makalah ini lengkap? silahkan hubungi dan perhatikan hal berikut ini



[1] Undang-Undang RI No. 20   Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Penerbit Citra Umbara, Bandung, 2003, Hal 3
[2] Syarifuddin, Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan, Konsep, Strategi, Dan Aplikasi, Grasindo, Jakarta, 2002